Penulis: Jumadi, Setiawan, I. N., Nawaz, M. and Sattar, F.
Dinamika perubahan penggunaan lahan memberikan dampak yang kompleks dan beragam terhadap faktor-faktor ekologis. Perluasan kawasan metropolitan dan lahan terbangun menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan, terutama peningkatan Suhu Permukaan Lahan (Land Surface Temperature/LST). Hubungan antara kawasan terbangun dan LST sangat penting untuk memahami fenomena pulau panas perkotaan (urban heat island).
Penelitian ini melakukan analisis spasio-temporal LST dan Normalised Difference Built-up Index (NDBI) di Kota Makassar, Indonesia, yang dipilih karena laju urbanisasinya yang cepat. Data Landsat 8 Operational Land Imager (OLI) selama sepuluh tahun (2013–2023) dianalisis menggunakan platform Google Earth Engine (GEE) untuk memperoleh nilai NDBI dan LST. Hasil penelitian kemudian dianalisis secara statistik menggunakan SPSS dan divisualisasikan dengan ArcGIS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan kawasan terbangun yang signifikan merupakan dampak dari pertambahan penduduk dan urbanisasi di wilayah kajian. Rata-rata luas lahan di Kecamatan Biringkanaya dan Tamalanrea mengalami peningkatan yang signifikan akibat urbanisasi dan pembangunan infrastruktur. Suhu permukaan lahan di Kota Makassar meningkat dari 26°C menjadi 35°C, dengan puncak mencapai 43°C pada tahun 2014 dan 40°C pada tahun 2023.
Hubungan antara lahan terbangun dan suhu permukaan lahan tergolong kuat, di mana kepadatan kawasan terbangun secara signifikan memengaruhi peningkatan suhu. Analisis regresi linear juga menunjukkan adanya korelasi positif antara NDBI dan LST, yang mengindikasikan bahwa meningkatnya urbanisasi dan perubahan lahan terbangun berkontribusi terhadap kenaikan suhu permukaan lahan.
Penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan data beresolusi tinggi, menerapkan teknik penginderaan jauh yang lebih canggih, serta menganalisis dinamika panas perkotaan secara lebih mendalam. Pemodelan prediktif dan kajian dampak sosial-ekonomi akibat fluktuasi suhu dapat menjadi dasar dalam perumusan kebijakan.
Selengkapnya dapat di baca disini
