Penulis: Santhyami, Jumadi, Kuswaji Dwi Priyono, Triastuti Rahayu, Dewi Novita Sari, Murnira Othman, Rudiyanto
Kekeringan hidrologis merupakan bencana yang dipicu oleh kondisi iklim dan berdampak langsung pada sektor pertanian, khususnya produksi padi. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan kekeringan dalam konteks spasial-temporal serta menganalisis dampaknya terhadap produksi padi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo Hulu, Jawa Tengah, Indonesia, selama periode 2017–2024. Analisis dilakukan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) berbasis citra satelit Sentinel-2A, data curah hujan tahunan, dan data produksi padi. Tingkat keparahan kekeringan dikuantifikasi menggunakan Normalised Difference Drought Index (NDDI).
Hasil pemodelan kekeringan divalidasi melalui analisis korelasi dan regresi dengan data curah hujan serta luas wilayah terdampak kekeringan. Sementara itu, dampak kekeringan terhadap produksi padi dianalisis menggunakan metode non-parametrik LOWESS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan spasial-temporal efektif dalam mengidentifikasi sebaran dan tren kekeringan. Secara spasial, kekeringan parah terjadi di Kabupaten Wonogiri dengan luas mencapai 1.203.014,20 hektare, sedangkan secara temporal puncak kekeringan terjadi pada tahun 2018 dengan luas wilayah terdampak sebesar 571.438,60 hektare.
Uji validasi menunjukkan adanya korelasi positif yang kuat antara nilai NDDI dan luas kekeringan (r = 0,84), serta korelasi negatif antara NDDI dan curah hujan (r = -0,74), yang mengindikasikan bahwa nilai NDDI yang lebih tinggi berkaitan dengan wilayah kekeringan yang lebih luas dan curah hujan yang lebih rendah. Analisis regresi linear mengonfirmasi NDDI sebagai indikator yang signifikan untuk pemantauan kekeringan, dengan koefisien determinasi R² = 0,706, yang menunjukkan bahwa 70,6% variasi luas kekeringan dapat dijelaskan oleh NDDI, serta nilai signifikansi statistik p = 0,009 (p < 0,05).
Selain itu, analisis LOWESS menunjukkan hubungan nonlinier (berbentuk U) antara NDDI dan produksi padi, dengan hasil produksi tertinggi pada nilai NDDI rendah (2,42–2,44 juta ton), menurun pada tingkat NDDI menengah (sekitar 2,20 juta ton), dan meningkat kembali pada nilai NDDI tinggi (2,35 juta ton). Pola ini menunjukkan bahwa dampak kekeringan terhadap produksi padi tidak bersifat linier dan kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain, seperti infrastruktur irigasi dan praktik pengelolaan tanaman. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa pemodelan spasial-temporal berbasis satelit merupakan pendekatan yang efektif untuk menganalisis kekeringan hidrologis serta memahami implikasinya terhadap produktivitas pertanian.
Selengkapnya baca di sini
