Komitmen Indonesia dalam forum internasional perubahan iklim kembali menjadi sorotan. Di berbagai pertemuan global, pemerintah menyatakan dukungan terhadap perlindungan hutan tropis dunia, termasuk hutan Amazon di Brasil. Namun, ironi muncul ketika janji-janji tersebut tidak sepenuhnya tercermin dalam pengelolaan hutan di dalam negeri. Diplomasi hijau tampak berjalan jauh, sementara persoalan hutan Indonesia masih tertatih di rumah sendiri.
Indonesia memang kerap menempatkan diri sebagai negara kunci dalam agenda iklim global. Pernyataan dukungan terhadap konservasi hutan dunia menjadi simbol kepemimpinan moral di hadapan komunitas internasional. Namun pada saat yang sama, deforestasi, alih fungsi lahan, dan kebakaran hutan masih menjadi masalah berulang di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: sejauh mana komitmen global tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan nyata di tingkat nasional dan daerah?
Hutan Indonesia memiliki peran strategis yang tak kalah penting dibanding Amazon. Sebagai salah satu paru-paru dunia, hutan tropis Indonesia menyimpan keanekaragaman hayati tinggi dan menjadi penopang kehidupan jutaan masyarakat adat dan lokal. Ketika pengelolaan hutan di dalam negeri masih diwarnai konflik lahan, lemahnya penegakan hukum, serta tekanan kepentingan ekonomi jangka pendek, dukungan terhadap perlindungan hutan negara lain justru terasa kontradiktif.
Diplomasi hijau seharusnya tidak berhenti pada citra dan pernyataan di forum internasional. Ia harus menjadi cerminan dari keberanian pemerintah dalam menata ulang kebijakan pengelolaan sumber daya alam di dalam negeri. Perlindungan hutan membutuhkan konsistensi antara komitmen global dan tindakan lokal mulai dari pengendalian izin berbasis lahan, pencegahan kebakaran hutan, hingga pemberdayaan masyarakat sebagai garda terdepan konservasi.
Ironi ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan iklim tidak diukur dari seberapa lantang suara di panggung dunia, melainkan dari seberapa nyata perubahan di wilayah sendiri. Menjaga hutan Brasil adalah sikap solidaritas global yang patut diapresiasi, tetapi menjaga hutan Indonesia adalah tanggung jawab yang tak bisa ditunda. Tanpa perbaikan serius di dalam negeri, diplomasi hijau berisiko menjadi sekadar retorika indah di luar, rapuh di dalam.
