Bulan November 2025 kembali menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi isu masa depan, melainkan krisis yang sedang berlangsung. Rangkaian peristiwa global dan nasional menunjukkan adanya jurang antara komitmen politik dan realitas di lapangan. Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30) di Brasil menjadi sorotan utama, namun hasilnya masih menyisakan tanda tanya besar tentang keseriusan dunia dalam menahan laju krisis iklim.
COP30 memang menghasilkan kesepakatan untuk meningkatkan dukungan bagi negara berkembang, terutama dalam pendanaan adaptasi. Namun, absennya target tegas untuk pengurangan bahan bakar fosil memperlihatkan bahwa kepentingan ekonomi masih sering mengalahkan urgensi lingkungan. Kritik dari berbagai pihak menunjukkan bahwa diplomasi iklim global masih berjalan lambat, sementara dampak perubahan iklim terus bergerak cepat.
Di sisi lain, laporan Copernicus tentang 2025 yang menuju salah satu tahun terpanas dalam sejarah dengan November sebagai salah satu bulan terpanas menjadi bukti ilmiah yang tak terbantahkan. Data ini memperkuat pesan bahwa kenaikan suhu global bukan anomali sesaat, melainkan tren jangka panjang akibat emisi gas rumah kaca yang belum terkendali.
Dalam konteks Indonesia, perubahan iklim bukan hanya statistik global, tetapi realitas sehari-hari. Peningkatan frekuensi cuaca ekstrem, ancaman kekeringan, banjir, dan kebakaran hutan menuntut kesiapsiagaan yang lebih serius. Langkah BMKG yang mendorong literasi iklim dan keterlibatan generasi muda patut diapresiasi, namun upaya edukatif ini harus dibarengi dengan kebijakan lintas sektor yang lebih berani dan konsisten.
November menjadi pengingat bahwa solusi perubahan iklim tidak cukup berhenti pada forum internasional atau kampanye simbolik. Dunia, termasuk Indonesia perlu melangkah dari retorika ke aksi nyata, dari komitmen ke implementasi, agar krisis iklim tidak terus diwariskan sebagai beban bagi generasi mendatang.
